Thursday, 30 July 2015
Wednesday, 29 July 2015
Tuesday, 21 July 2015
Saturday, 18 July 2015
Saturday, 11 July 2015
IMAN YANG HAQ
Kita
sebagai orang yang memeluk agama Islam tidak boleh berpuas diri dengan predikat
seorang Muslim. Karena keislaman seseorang tidak cukup untuk dapat menurunkan pertolongan
Allah dalam kehidupan kita di dunia. Keislaman juga belum tentu bisa
menyelamatkan kita dari siksa api neraka. Hanya orang-orang yang beriman sejati
yang mendapatkan semua janji2Nya yaitu kebahagian dunia dan akhirat.
Bagaimanakah kriteria atau ciri-ciri orang-orang beriman yang sering dipanggil
Allah dengan mesra “…yaa ayyuhal ladzina aamanu…..” ? Allah yang Maha Pengasih
telah menyebutkan di dalam Al Quran surat Al Anfal :2-4
Sesungguhnya
orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah
hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka
(karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang
yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan
kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka
akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta
rezki (nikmat) yang mulia.
Dalam
firman Allah SWT tersebut jelas sekali menyebutkan bahwa seorang mukmin yang
Haq, yang benar-benar tulen, mempunyai ciri-ciri sebagai berikut>
1. Hatinya yang gemetar hatinya
bila disebutkan Asma Allah
Gemetarnya
bisa disebabkan karena banyak hal, karena kagum dan takluk pada Kebesaran
Allah. Kebesaran dan Kemuliaan Dzat , Sifat maupun PerbuatanNya. Bisa juga
karena takut terhadap siksa api neraka yang sangat pedih dan terbayangkan dosa
dan kebodohan yang telah dilakukan. Bisa juga gemetar karena berharap karunia
surga – dunia maupun akhirat-. Terkadang gemetar haru mengingat sifat Kasih
Sayang dan PengampunNya ataupun gemetar hati karena melihat Kebesaran
ciptaanNya.
Asma Allah yang disebutkan dalam Al Quran dan hadits biasa disebut dengan 99
Asmaul Husna (bahkan lebih dari itu) menunjukkan Sifat-Sifat Allah yang Agung yang
wajib kita ketahui, fahami dan hayati maknanya. Pemahaman atas makna dan
tafakkur pada ciptaan2Nya dan Kebesaran Asma-asma Allah itulah yang dapat
menghantarkan seseorang pada “wajilat quluubukum”
2. Keimanannya bertambah bila
dibacakan ayat-ayat Tuhan
Ayat dalam bahasa Arab artinya bukti. Orang-orang yang imannya tulen bila
dihadapannnya dibacakan ayat Al Quran (dalil naqli) ataupun bukti aqli yang
berupa demonstrasi Kebesaran Allah dalam penciptaan makhluk-makhlukNya maka
bibirnyapun berucap “ Subhanallah…”. Bila membaca Al Quran yang menyebutkan
tentang janji-janji Allah keimanannya bertambah, semangat hidupnya makin
membara dan semakin giat beramal shalih.
Dan bila dia melihat Kebesaran Allah dalam penciptaan langit , buni dan jagad
raya alam semesta maka diapun makin tunduk dan kagum pada Kuasa Allah. Bahkan
ketika melihat betapa sempurna dan hebatnya pasukan-pasukan Allah yang berupa
misalnya lebah lebah dan madu yang dihasilkan, maka diapun makin yakin dan
kagum pada Allah.
Hari-hari orang beriman tidak pernah ada yang menjemukan. Setiap detik yang
dilalui dipakai untuk “melihat” demonstrasi Kekuasaan Allah, bertafakkur dan
kemudian bertasbih kepada Allah. Dan itu semua makin meningkatkan imannya.
3. Bertawakkal hanya kepada
Allah
Bagi orang yang imannya Haq, tidak pernah ada rasa takut dan gentar menghadapi
pernak-pernik dan badai di dalam kehidupan dunia. Ketergantungannya kepada
Allah dan keyakinan bahwa Allah selalu menuntun dan melindunginya menjadikan
langkahnya pasti menapaki roda kehidupan.
….
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan
keluar. dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan
Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang A(dikehendaki)Nya.
Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.
Putus
asa tidak ada dalam kamus hidupnya. Hidup dijalani dengan lapang dan mudah
karena jalan keluar dalam tiap masalah, insya Allah ada. Dan rezeki juga sudah
ditanggung oleh Allah Azza wa Jalla.
4. Mendirikan Shalat
Mereka ini adalah orang-orang yang gandrung shalat. Shalat menjadi obat segala
masalah kehidupan. Persis seperti yang disabdakan junjungan kita Rasulullah SAW
:
Apabila
engkau mempunyai masalah maka shalat (sunnah) lah 2 rakaat” (HR Bukhari)
Mereka
ini bukan sekedar melakukan shalat tapi mendirikannya. Menjaga rukun-rukunnya,
waktunya, sunnah-sunnahnya dan juga kekhusyuannya. Shalat merupakan saat-saat
yang indah bermunajat kepada Allah, mengadukan beban hidup, memohonkan
kemudahan hidup di dunia dan juga kemuliaan hidup di akhirat. Shalat tidaklah
menjadi beban bagi mereka bahkan shalat merupakan saat beristirahat dari
keruwetan hidup. Dan tepatlah sabda Rasulullah saat menyuruh Bilal adzan dengan
berkata : “Wahai Bilal, berilah istirahat kepada kita semua!”
Dan
bukti mereka mendirikan shalat adalah akhlaknya di luar shalat. Mengapa ?
Karena shalat itulah yang menghalangi mereka berbuat maksiat dan mungkar.
Semakin baik mutu shalat maka semakin tinggilah akhlak seseorang
5. Menafkahkan rezeki yang
dipunyai
Ciri
terakhir seorang mukmin yang tulen adalah mudahnya dia bersedekah. Baginya
harta karunia Allah yang didalamnya ada hak fakir miskin. Sedekah adalah tanda
syukur kepada Allah kerena diberi kelapangan dalam harta. Tapi dia juga
bersedekah dalam keadaan sempit karena jalan kemudahan akan datang dengan
derasnya sedekah. Hati orang yang mukmin tidak terikat oleh harta yang
dimiliki. Harta diletakkannya di tangan bukan di hati
Demikianlah ciri-ciri seorang mukmin yang Haq, yang
tulen. Dan mukmin sejati inilah yang mendapatkan janji Allah yaitu kemuliaan
derajat, pengampunan dosa-dosa dan rezeki yang halal dan berkah.
Semoga bahasan ini bisa menjadi jalan intropeksi bagi diri kita masing-masing.
Apakah kita sudah mempunyai 5 ciri-ciri di atas ? Bila sudah, kita harus
mensyukuri dan meminta Allah mengekalkan sifat-sifat mulia ini dalam diri kita.
Bila kita belum memiliki 5 ciri ini maka kita perlu berusaha semaksimal mungkin
agar kita bisa menjadi seorang mukmin sejati, yang dicintai Allahu Rabbi
PENDIDIKAN MASA KELAHIRAN
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Kelahiran
Bayi dan Masa Prenatal
banyak
dokter, psikolog dan seniman yang berspekulasi mengenai arti dari peristiwa
kelahiran. Yang jelas ialah, kelahiran itu merupakan satu “drama penjebolan”
secara drastis, di sertai dengan perubahan-perubahan
kondisi revolusioner dari seorang
bayi. Kelahiran merupakan suatu bagian proses yang lebih lama dan lebih panjang
dari eksistensi manusia, yang akan dilanjutkan dengan pertumbuhan serta
perkembangn dari macam-macan fungsi fisik dan psikis yang berlangsung sepanjang
hayat. Ada beberapa pendapat spekulatif menganai peristiwa kelahiran anak,
misalnya tangis seorang bayi pada kelahirannya itu bukan merupakan suara
mekanis di sebabkan oleh peristiwa terhirupnya udara untuk pertama kali dalam
paru-parunya akan tetapi merupakan:
“tangis kesakitan, tangis protes, tangis
kepedihan, juga tangis keengganan serta ketakutan”, karena ia terlempar
dari rahim ibunya untuk dilempar ke tengah dunia yang hiruk-pikuk dan asing
baginya.
1. Tahap-tahap
kelahiran
Menurut
beberapa para ahli tahap-tahap proses kelahiran di bagi menjadi tiga tahap di
antaranya yaitu:
Tahap
pertama, terjadi kontraksu peranakan yang berlangsung 15 hingga 20 menit pada
permulaan dan berakhir hingga 1 menit.
Tahap
kedua, di mulai ketika kepala bayi bergerak melalui leher rahim dan saluran
kelahiran. Tahap ini berakhir ketika bayi itu benar-benar keluar dari tubuh
ibu.
Tahap
ketiga, setelah bayi lahir.
Bayi tersebut itu di cabut dari kehangatan
perlindungan dalam rahim ibunya. Dan sejak kelahirannya, ia harus bisa belajar dengan kemampuan sendiri untuk
hidup, menghirup udara dan menghisap air susu. Ia harus melatih semua fungsi
jasmaniah dan rokhaniahnya, agar ia bisa mempertahankan hidupnya di masa depan.
2. Jenis-jenis
Kelahiran
Jenis
kelahiran merupakan kondisi pertama yang menyebabkan kelahiran.
Secara
umum jenis kelahiran di bedakan atas lima jenis yaitu:
1. Kelahoiran
normal atau spontan
2. Kelahiran
dengan peralatan
3. Kelahiran
sungsang
4. Kelahiran
melintang dan
5. Kelahiran
melalui pembedahan caesar.
PENILAIAN HASIL PEMBELAJARAN
PENDAHULUAN
Penilaian
merupakan salah satu cara untuk memperoleh suatu informasi tentang berhasil
atau tidaknya pengajaran. Fokus penilaian pendidikan adalah keberhasilan
belajar peserta didik dalam mencapai standar kompetensi yamg ditentukan.
Ditinjau dari sudut profesionalisme tugas kependidikan, kegiatan penilaian
merupakan salah satu cirri yang melekat pada pendidik professional.
Penilaian hasil belajar merupakan
salah satu faktor yang sangat penting,
PEMBAHASAN
A. Pengertian Penilain Pengukuran Dan Tes
Penilaian
(assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat
penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta
didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik.
Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar
seseorang peserta didik. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif
(pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka).
Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penetuan nilai kuantitatif
tersebut.
Pengukuran
(measurement) adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi
numeric dari suatu tingkatan di mana seseorang peserta didik telah mencapai
karakteristik tertentu.
Tes
adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada peserta didik pada
waktu dan tempat tertentu serta dalam kondisi yang memenuhi syarat-syarat
tertentu yang jelas.
Secara
khusus, dalam konteks pembelajaran dikelas, penilaian dilakukan untuk
mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik, mendiagnosa kesulitan
belajar, memerikan umpan balik/perbaikan proses belajar mengajar, dan penentuan
penilaian kelas. Melalui penilaian dapat diperoleh informasi yang akurat
tentang penyelenggaraan pembelajaran dan keberhasilan belajar peserta didik,
guru, serta proses pembelajaran itu sendiri. Berdasarkan informasi itu, dapat
dibuat keputusan tentang pembelajaran, kesulitan peserta didik dan upaya
bimbingan yang diperlukan serta keberadaan kurikulum itu sendiri.
B. Hakikat Dan Prinsip Penilaian
Penilain
merupakan rangkaian kegiatan untuk memperoleh, mengaanalisis, dan menafsirkan
data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara
sistematis, dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna
dalam pengambilan keputusan. Penilaian KTSP adalah penilaian berbasis
kompetensi, yaitu again dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan untuk
mengetahui pencapaian kompetensi, yaitu bagian dari kegiatan pembelajaran yang
yang dilakukan untuk mengetahui pencapaian kompetensi peserta didik yang
meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
Penilaian
dilakukan selama proses pembelajaran atau pada akhir pembelajaran. Fokus
penilaian pendidikan adalah keberhasilan belajar peserta didik dalam mencapai
standar kompetensi yamg ditentukan. Pada tingkat mata pelajaran, kompetensi
yang harus dicapai berupa Standar Kompetensi (SK), mata pelajaran yang
selanjutnya dijabarkan dalam Kompetensi Dasar (KD), untuk tingkat satuan
pendidikan, kompetesi yangn harus dicapai peserta didik adalah Standar
Kompetensi Lulusan (SKL).
Penilaian
merupakan bagian yang penting dalam pembelajaran. Dengan melakukan penilaian,
pendidik sebagai pengelola kegiatan pembelajaran. Dengan melakukan penilaian,
pendidik sebagai pengelola kegiatan pembelajaran dapat mengetahui kemampuan
yang dimiliki peserta didik, ketepatan metode mengajar yang digunakan, dan
keberhasilan peserta didik dalam meraih kompetensi yang telah di tetapkan.
Berdasarkan
hasil penilaian, pendidik dapat mengambil keputusan secara tepat untuk
menentukan langkah yang harus dilakukan selanjutnya, hasil penilaian juga dapat
memberikan motivasi kepada peserta didik untuk berprestasi lebih baik. Ditinjau
dari sudut profesionalisme tugas kependidikan, kegiatan penilaian merupakan
salah satu cirri yang melekat pada pendidik professional. Seoarang pendidik
professional selalu menginginkan umpan balik atas proses pembelajaran yang
dilakukannya.
Hal tersebut
dilakukan karena salah satu indicator keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh
tingkat keberhasilan yang dicapai peserta didik. Dengan demikian, hasil
penilaian dapat dijadikan tolak ukur keberhasilan proses pembelajaran dan umpan
balik bagi pendidik untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran yang
dilakukan.[1]
C. Tujuan Penilaian
1. Sebagai
grading, penilaian ditujukan untuk menentukan atau membedakan kedudukan hasil
kerja peserta didik dibandingkan dengan peserta didik lain. Penilaian ini akan
menunjukkan kedudukan peserta didik dalam urutan dibandingkan dengan anak yang
lain. Karena itu, fungsi penilaian untuk grading ini cenderung membandingkan
anak dengan anak yang lain sehingga lebih mengacu kepada penilaian acuan norma.
2. Sebagai
alat seleksi, penilaian ditujukan untuk memisahkan antara peserta didik yang
masuk dalam kategori tertentu dan yang tidak. peserta didik yang boleh masuk
sekolah tertentu atau yang tidak boleh. Dalam hal ini, fungsi penilaian untuk
menentukan seseorang dapat masuk atau tidak diekolah tertentu.
3. Untuk
menggambarkan sejauh mana seoarang peserta didik telah menguasai kompetensi.
4. Sebagai
bimbingan, penilaian bertujuan untuk mengevaluasi hasil belajar peserta didik
dalam rangka membantu peserta didik memahami dirinya, membuat keputusan tentang
langkah berikutnya, baik untuk pemilihan program, pengembangan kepribadian
maupun untuk penjurusan.
5. Sebagai
alat diagnosis, penilaian bertujuan menunjukkan kesulitan belajar yang dialami
peserta didik dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan. Ini akan
membantu guru menentukan apakah seseorang perlu pengayaan.
6. Sebagai
alat prediksi, penilaian bertujuan untuk mendapatkan informasi yang dapat
memprediksi bagaimana kinerja peserta didik pada jenjang pendidikan berikutnya
atau dalam pekerjaan yang sesuai. Contoh dari penilaian ini adalah tes potensi
akademik.
D. Pendekatan Penilaian
Ada dua
pendekatan yang dapat digunakan dalam melakukan penilaian hasil belajar, yaitu
penilaian yang mengacu pada norma dan penilaian yang mengacu kepada criteria.
Perbedaan kedua pendekatan tersebut terletak pada acuan yang dipakai. Pada
penilaian yang mengacu kepada norma, interpretasi hasil penilaian peserta didik
dikaitkan dengan hasil penilaian seluruh peserta didikyang dinilai dengan alat
penilaian yang sama. Jadi hasil seluruh peserta didik digunakan sebagai acuan,
sedangkan penilaian yang mengacu kepada criteria atau patokan, interpretasi
hasil penilaian bergantung pada apakah atau sejauh mana seorang peserta didik
mencapai atau menguasai criteria atau patokan yang telah ditentukan. Criteria
atau patokan itu dirumuskan dalam kompetensi atau hasil belajar dalam kurikulum
berbasis kompetensi.
Dalam hal ini
prestasi peserta didik ditentukan oleh kriteria yang telah ditetapkan untuk
penguasaan suatu kompetensi. Meskipun demikian, kadang-kadang dapat digunakan
penilaian acuan norma, untuk maksud khusus tertentu sesuai dengan kegunaannya,
sesuai dengan kegunaannya, seperti untuk memilih peserta didik masuk rombongan
belajar yang mana, untuk mengelompokkan peserta didik dalam kegiatan belajar,
dan untuk menyeleksi peserta didik yang mewakili sekolah dalam lomba antar
sekolah.
E. Ruang Lingkup Penilaian
Hasil belajar
peserta didik dapat diklasifikasikan ke dalam tiga ranah (domain), yaitu: ranah
kognitif , ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Sejauh mana masing-masing
domain tersebut memberi sumbangan terhadap sukses seseorang dalam pekerjaan dan
kehidupan. Data hasil penelitian multi kecerdasan menunjukkan bahwa kecerdasan
bahasa dan kecerdasan logika-matematika yang termasuk dalam domain kognitif
memiliki konstribusi hanya sebesar 5%. Kecerdasan antarpribadi dan kecerdasan
intrapribadi yang termasuk domain afektif memberikan konstribusu yang sangat
besar yaitu 80%. Sedangkan kecerdasan kinestik, kecerdasan visual dan kecerdsan
musical yang termasuk dalam domain psikomotorik memberikan sumbangannya sebesar
5%.
Agar penekanan
dalam pengembangan ketiga domain ini disesuaikan dengan proporsi sumbangan
masing-masing domain terhadap sukses dalam pekerjaan dan kehidupan, para guru
perlu memahami pengertian dan tingkatan tiap domain serta bagaimana
menerapkannya dalam proses belajar mengajar dan penilaian.[2]
F. Jenis Dan Sistem Penilaian
1. penilaian
formatif adalah penilaian yang dilaksanakan pada akhir program belajar mengajar
untuk melihat tongkat keberhasilan proses belajar mengajar itu sendiri. Dengan
demikian, penilaian formatif berorientasi kepada proses belajar meengajar.
Dengan penilaian formatif diharapkan guru dapat memperbaiki program pengajaran
dan strategi pelaksanaannya.
2. Penilaian
sumatif adalah penilaian yang dilaksanakan pada akhir unit program, yaitu akhir
catur wulan, akhir semester, dan ajhir tahun. tujuannya adalah untuk melihat
hasil yang dicapai oleh para siswa, yakni seberapa jauh tujuan-tujuan kurikuler
dikuasai oleh para siswa. Penilaian ini berorientasi kepada produk, bukan
kepada proses.
3. Penilaian
diagnostic adalah penilaian yang bertujuan untuk melihat kelemahan-kelemahan
siswa serta factor penyebabnya. Penilaian ini dilaksanakan untuk keperluan
bimbingan belajar., pengajaran remedial, menemukan kasus-kasus,dll. Soal-soal
tentunya disusun agar dapat ditemukan jenis kesulitan belajar yang dihadapi
oleh para siswa.
4. Penilaian
selektif adalah penilaian yang bertujuan untuk keperluan seleksi, misalnya
ujian saringan masuk ke lembaga pendidikan tertentu.
5. Penilaian
penempatan adalah penilaian yang ditujukan untuk mengetahui keterampilan
prasyarat yang diperlukan bagi suatu program belajar dan penguasaan belajar
seperti yang diprogramkan sebelum memulai kegiatan belajar untuk program itu.
6. Penilaian
acuan norma adalah penilaian yang diacukan kepada rat-rata kelompoknya. Dengan
demikian dapat diketahui posisi kemampuan siswa di dalam kelompoknya.
7. Penilaian
acuan patokan adalah penilaian yang diacukan kepada tujuan intruksional yang
harus dikusai oleh siswa. Dengan demikian, derajat keberhasilan siswa
dibandingkan debgan tujuan yang seharusnya dicapai, bukan dibandingkan dengan
rata-rata kelompoknya.[3]
KESIMPULAN
Hasil
penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata)
dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses
pencarian atau penetuan nilai kuantitatif tersebut. Melalui penilaian dapat
diperoleh informasi yang akurat tentang penyelenggaraan pembelajaran dan
keberhasilan belajar peserta didik, guru, serta proses pembelajaran itu
sendiri.
Penilaian merupakan
bagian yang penting dalam pembelajaran. Dengan melakukan penilaian, pendidik
sebagai pengelola kegiatan pembelajaran. Dengan melakukan penilaian, pendidik
sebagai pengelola kegiatan pembelajaran dapat mengetahui kemampuan yang dimiliki
peserta didik, ketepatan metode mengajar yang digunakan, dan keberhasilan
peserta didik dalam meraih kompetensi yang telah di tetapkan.
Pada
penilaian yang mengacu kepada norma, interpretasi hasil penilaian peserta didik
dikaitkan dengan hasil penilaian seluruh peserta didik yang dinilai dengan alat
penilaian yang sama. Jadi hasil seluruh peserta didik digunakan sebagai acuan,
sedangkan penilaian yang mengacu kepada kriteria atau patokan, interpretasi
hasil penilaian bergantung pada apakah atau sejauh mana seorang peserta didik
mencapai atau menguasai kriteria atau patokan yang telah ditentukan.
DAFTAR
PUSTAKA
`Mardapi, Dj. Dan ghofur, pedoman
umum pengembangan penilaian, kurikulum berbasis kompetensi SMA, Jakarta,
Direktorat pendidikan menengah umum, 2004
Nana sudjana, penilaian hasil
proses belajar megajar, Bandung,PT Remaja Rosdakarya, 2009.
Rasyid, Harun dan maskur, penilaian hasil belajar , Bandung, PT
Wacana Prima, 2007.
[1] Mardapi, Dj.
Dan ghofur, pedoman umum pengembangan
penilaian, kurikulum berbasis kompetensi SMA, Jakarta, Direktorat
pendidikan menengah umum,2004, hlm 20
[2] Rasyid, Harun
dan maskur, penilaian hasil belajar ,
Bandung, PT Wacana Prima, 2007, hlm 17
[3] Nana sudjana, penilaian hasil proses belajar megajar, Bandung,PT
Remaja Rosdakarya,2009 hlm 5
Friday, 10 July 2015
Saturday, 13 June 2015
Macam-macam Metode Pembelajaran
1. Metode pembelajaran
ceramah
adalah penerangan secara lisan atas bahan
pembelajaran kepada sekelompok pendengar untuk mencapai tujuan pembelajaran
tertentu dalam jumlah yang relatif besar. Seperti ditunjukkan oleh Mc Leish
(1976), melalui ceramah, dapat dicapai beberapa tujuan. Dengan metode ceramah,
guru dapat mendorong timbulnya inspirasi bagi pendengarnya.
Gage dan Berliner (1981:457), menyatakan metode ceramah cocok untuk digunakan dalam pembelajaran dengan ciri-ciri tertentu. Ceramah cocok untuk penyampaian bahan belajar yang berupa informasi dan jika bahan belajar tersebut sukar didapatkan.
Gage dan Berliner (1981:457), menyatakan metode ceramah cocok untuk digunakan dalam pembelajaran dengan ciri-ciri tertentu. Ceramah cocok untuk penyampaian bahan belajar yang berupa informasi dan jika bahan belajar tersebut sukar didapatkan.
Metode pembelajaran
diskusi adalah proses pelibatan
dua orang peserta atau lebih untuk berinteraksi saling bertukar pendapat, dan atau saling
mempertahankan pendapat dalam pemecahan masalah sehingga didapatkan kesepakatan
diantara mereka. Pembelajaran yang menggunakan metode diskusi merupakan
pembelajaran yang bersifat interaktif (Gagne & Briggs. 1979: 251).
Menurut Mc. Keachie-Kulik dari hasil penelitiannya, dibanding
metode ceramah, metode diskusi dapat meningkatkan anak dalam pemahaman konsep
dan keterampilan memecahkan masalah. Tetapi dalam transformasi pengetahuan,
penggunaan metode diskusi hasilnya lambat dibanding penggunaan ceramah.
Sehingga metode ceramah lebih efektif untuk meningkatkan kuantitas pengetahuan
anak dari pada metode diskusi.
3. Metode Demonstrasi
Metode pembelajaran
demontrasi merupakan metode
pembelajaran yang sangat efektif untuk menolong siswa mencari jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan seperti: Bagaimana cara mengaturnya? Bagaimana proses
bekerjanya? Bagaimana proses mengerjakannya. Demonstrasi sebagai metode
pembelajaran adalah bilamana seorang guru atau seorang demonstrator (orang luar
yang sengaja diminta) atau seorang siswa memperlihatkan kepada seluruh kelas
sesuatau proses. Misalnya bekerjanya suatu alat pencuci otomatis, cara membuat
kue, dan sebagainya.
Kelebihan Metode Demonstrasi :
a. Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan.
c. Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat
dalam diri siswa.
Kelemahan metode Demonstrasi :
a. Siswa kadang kala sukar melihat dengan jelas benda yang
diperagakan.
b. Tidak semua benda dapat didemonstrasikan.
c. Sukar dimengerti jika didemonstrasikan oleh pengajar yang
kurang menguasai apa yang didemonstrasikan.
Macam-Macam Metode
pembelajaran
4. Metode Ceramah Plus
Metode Pembelajaran
Ceramah Plus adalah metode pengajaran
yang menggunakan lebih dari satu metode, yakni metode ceramah yang
dikombinasikan dengan metode lainnya. Ada tiga macam metode ceramah plus, diantaranya yaitu:
a. Metode ceramah plus tanya jawab dan tugas
a. Metode ceramah plus tanya jawab dan tugas
b. Metode ceramah plus diskusi dan tugas
c. Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan (CPDL)
5. Metode Resitasi
Metode Pembelajaran
Resitasi adalah suatu metode
pengajaran dengan mengharuskan siswa membuat resume dengan kalimat sendiri.
Kelebihan Metode
Resitasi adalah :
a. Pengetahuan yang diperoleh peserta didik dari hasil belajar
sendiri akan dapat diingat lebih lama.
b. Peserta didik memiliki peluang untuk meningkatkan keberanian, inisiatif, bertanggung jawab dan mandiri.
Kelemahan Metode Resitasi adalah :
b. Peserta didik memiliki peluang untuk meningkatkan keberanian, inisiatif, bertanggung jawab dan mandiri.
Kelemahan Metode Resitasi adalah :
a. Kadang kala peserta didik melakukan penipuan yakni peserta
didik hanya meniru hasil pekerjaan orang lain tanpa mau bersusah payah
mengerjakan sendiri.
b. Kadang kala tugas dikerjakan oleh orang lain tanpa pengawasan.
c. Sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan individual.
6. Metode Eksperimental
Metode pembelajaran
eksperimental adalah suatu cara
pengelolaan pembelajaran di mana siswa melakukan aktivitas percobaan dengan
mengalami dan membuktikan sendiri suatu yang dipelajarinya. Dalam metode ini
siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri dengan
mengikuti suatu proses, mengamati suatu obyek, menganalisis, membuktikan dan
menarik kesimpulan sendiri tentang obyek yang dipelajarinya.
7. Metode Study Tour (Karya wisata)
Metode study tour Study tour (karya wisata)
adalah metode mengajar dengan mengajak peserta didik mengunjungi suatu objek
guna memperluas pengetahuan dan selanjutnya peserta didik membuat laporan dan
mendiskusikan serta membukukan hasil kunjungan tersebut dengan didampingi oleh
pendidik.
8. Metode Latihan Keterampilan
Metode latihan
keterampilan (drill method) adalah suatu metode mengajar dengan memberikan pelatihan
keterampilan secara berulang kepada peserta didik, dan mengajaknya langsung
ketempat latihan keterampilan untuk melihat proses tujuan, fungsi, kegunaan dan
manfaat sesuatu (misal: membuat tas dari mute). Metode latihan keterampilan ini
bertujuan membentuk kebiasaan atau pola yang otomatis pada peserta didik.
9. Metode Pengajaran Beregu
Metode pembelajaran
beregu adalah suatu metode
mengajar dimana pendidiknya lebih dari satu orang yang masing-masing mempunyai
tugas.Biasanya salah seorang pendidik ditunjuk sebagai kordinator. Cara
pengujiannya,setiap pendidik membuat soal, kemudian digabung. Jika ujian lisan
maka setiapsiswa yang diuji harus langsung berhadapan dengan team pendidik
tersebut
10. Peer Theaching Method
Metode Peer Theaching sama juga dengan mengajar sesama teman, yaitu
suatu metode mengajar yang dibantu oleh temannya sendiri.
11. Metode Pemecahan Masalah (problem solving
method)
Metode problem solving
(metode pemecahan masalah) bukan hanyasekadar metode mengajar, tetapi juga merupakan suatu
metode berpikir, sebabdalam problem solving dapat menggunakan metode-metode
lainnya yang dimulaidengan mencari data sampai pada menarik kesimpulan.
Metode problem solving merupakan metode yang merangsang berfikir
danmenggunakan wawasan tanpa melihat kualitas pendapat yang disampaikan
olehsiswa. Seorang guru harus pandai-pandai merangsang siswanya untuk
mencobamengeluarkan pendapatnya.
12. Project Method
Project Method adalah metode perancangan adalah suatu metode
mengajar dengan meminta peserta didik merancang suatu proyek yang akan diteliti
sebagai obyek kajian.
13. Taileren Method
Teileren Method yaitu suatu metode mengajar dengan menggunakan
sebagian-sebagian,misalnya ayat per ayat kemudian disambung lagi dengan ayat
lainnya yang tentusaja berkaitan dengan masalahnya
14. Metode Global (ganze method)
Metode Global yaitu suatu metode mengajar dimana siswa disuruh
membaca keseluruhan materi, kemudian siswa meresume apa yang dapat mereka serap
atau ambil intisaridari materi tersebut.
Semoga dapat menjadi bahan acuan dalam menerapakan metode
pembelajaran untuk peserta didik.
Buku acuan : Simamora, Roymond H. (2009). BUKU AJAR PENDIDIKAN
DALAM KEPERAWATAN. Jakarta : EGC
Monday, 8 June 2015
METODE DALAM PEMBELAJARAN
Penggunaan Metode Dalam Pembelajaran
METODE DALAM PEMBELAJARAN
1. Pengertian Metode
Didalam dunia pendidikan, istilah
metode secara sederhana berarti suatu cara yang harus dilalui untuk menyajikan
bahan pelajaran agar tercapai tujuan pendidikan.*1 Sedangkan menurut kamus
Purwadarminta ( 1976 ), secara umum metode adalah cara yang telah teratur dan
terpikir baik – baik untuk mencapai suatu maksud. Sedangkan menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia, metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan
pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Metode berasal
dari bahasa Inggris yaitu Method artinya melalui, melewati, jalan atau cara
untuk memperoleh sesuatu.*2 Sedangkan menurut kamus Webster’s Third New International
Dictionary of The English Language ( yang selanjutnya disebut Wbster”s ) yang
dimaksud dengan metode pada umumnya adalah:
- Suatu prosedur atau proses untuk mendapatkan suatu
objek.
- Suatu disiplin atau system yang acapkali dianggap
sebagai suatu cabang logika yang berhubungan dengan prinsip – prinsip yang
dapat diterapkan untuk penyidikan kedalam atau eksposisi dalam berbagai
subjek
- Suatu prosedur, teknik, atau cara melakukan
penyelidikan yang sistematis yang dipakai oleh atau yang sesuai dengan
suatu ilmu ( sains ), seni atau disiplin tertentu…
- Suatu rencana sistematis yang diikuti dalam menyajikan
materi untuk pengajaran ….
- Suatau cara memandang, mengorganisasi, dan memberikan
bentuk, dan arti khusus pada materi- materi artistic.
Sedangkan menurut kamus The New
Lexicon Webster’s Dictionary of The English ( yang selanjutnya disebut dengan
The New Lexicon ), metode adalah : “ suatu cara untuk berbuat sesuatu untuk
mengerjakan sesuatu, keteraturan dalam berbuat, berencana dan lain – lain :
suatu susunan atau system yang teratur “. ( 1989 : 628 )*3
Berdasarkan beberapa definisi metode yang diungkapkan oleh para ahli pada prinsipnya sama yaitu merupakan suatu cara dalam rangka pencapaian tujuan, dalam hal ini dapat menyangkut kehidupan ekonomi, social, politik, maupun keagamaan. Jadi metode erat kaitannya dengan prosedur, proses, atau teknik yang sistematis dalam penyelidikan suatu disiplin ilmu tertentu untuk mendapatkan objek ( bahan – bahan ) yang diteliti. Dalam proses pendidikan metode mempunyai peran sangat penting dalam upaya mencapai tujuan pendidikan. Ia membermaknakan materi pelajaran yang tersusun dalam kurikulum pendidikan sedemikian rupa sehingga dapat dipahami sehingga dapat diserap atau dipahami oleh anak didik dan menjadi pengertian – pengertian yang fungsional terhadap tingkah laku. Metode adalah strategi yang tidak dapat ditinggalkan dalam proses belajar mengajar. Setiap kali mengajar guru pasti menggunanakan metode, berbagai macam metode yang guru gunakan tentunya metode yang digunakan itu tidak sembarangan, melainkan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Sebelum kita beranjak kedalam pembahasan yang selanjutnya alangkah baiknya jika kita mengatahui apa itu pembelajaran. Pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap upaya yang sistimatik dan disengaja untuk menciptakan kondisi – kondisi agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efesien.*4 Sedangkan menurut pendapat lain pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur – unsure manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.*5 Sedangkan menurut Arief Sadiman (1990 ), pembelajaran adalah usaha – usaha yang terencana dalam memanipulasi sumber – sumber belajar agar terjadi proses belajar dalam diri peserta didik. *6 Sedangkan Iskandar ( 1995 )mengartikan pembelajaran adalah upaya untuk mebelajarkan siswa. Dan menurut Dugeng ( 1993 ) adalah upaya untuk membelajarkan peserta didik. Dalam kegiatan pembelajaran tersebut tidak dapat lepas dari interaksi antara sumber belajar dengan warga belajar, sehingga dalam pelaksanaan interaksi tersebut diperlukan berbagai cara dalam pelaksanaannya. Dalam interaksi tersebut terlibat beberapa orang diantaranya siswa, guru, dan tenaga ahli lainnya, misalnya tenaga laboratorium. Sedangkan sumber belajar diantara buku – buku, papan tulis, dan kapur, fotograpi, slide dan film, audio dan video tape.
Metode dalam pembelajaran tidak hanya berfungsi sebagai cara untuk menyampaikan materi saja, sebab sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran mempunyai tiga cakupan yang luas yaitu disamping sebagai penyampai informasi juga mempunyai tugas untuk mengelola kegiatan pembelajaran sehingga warga belajar dapat belajar untuk mencapai tujuan secara cepat.
Setiap tujuan yang dirumuskan menghendaki penggunaan metode yang sesuai. Untuk mencapai suatu tujuan yang diharapkan setiap guru tidak mesti menggunakan satu metode, tetapi bisa juga menggunakan beberapa metode dalam sebuah pembelajaran. Apalagi jika rumusan itu lebih dari satu, dua ataupun tiga rumusan tujuan.dalm hal ini guru perlu adanya sebuah penggabungan penggunaan metode pengajaran. Dengan begitu kekurangan metode yang satu akan tertutupi dengan metode yang lainnya lagi, dengan demikian metode mengajar yang saling melengkapi ini akan menghasilkan hasil pengajaran yang lebih baik daripada menggunakan atau terpaku dalam satu metode.
Metode mengajar yang berfariasi akan menggairahkan belajar anak didik. Variasi dalam kegiatan pembelajaran adalah perubahan dalam proses kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi para peserta didik serta mengurangi kejenuhan dan kebosanan*7. Pada suatu kondisi tertentu anak didik akan merasa bosan dengan metode ceramah, disebabkan mereka harus dengan setia dan tenang mendengarkan penjelasan guru tentang suatu masalah. Kegiatan pengajaran seperti itu harus guru alihkan dengan metode yang lain bisa dengan metode Tanya jawab atau metode diskusi, karena kemampuan setiap metode tersebut berbeda – beda, kemampuan yang dihasilkan oleh metode ceramah tentunya akan berbeda dengan metode yang dihasilkan oleh metode Tanya jawab atau diskusi. Demikian juga dengan penggunaan metode mengajar lainnya yang diantaranya adalah metode eksperimen, observasi, karyawisata, problem solving, dan lain sebagainya yang nanti akan kita bahas di dalam macam – macam metode.
Berdasarkan beberapa definisi metode yang diungkapkan oleh para ahli pada prinsipnya sama yaitu merupakan suatu cara dalam rangka pencapaian tujuan, dalam hal ini dapat menyangkut kehidupan ekonomi, social, politik, maupun keagamaan. Jadi metode erat kaitannya dengan prosedur, proses, atau teknik yang sistematis dalam penyelidikan suatu disiplin ilmu tertentu untuk mendapatkan objek ( bahan – bahan ) yang diteliti. Dalam proses pendidikan metode mempunyai peran sangat penting dalam upaya mencapai tujuan pendidikan. Ia membermaknakan materi pelajaran yang tersusun dalam kurikulum pendidikan sedemikian rupa sehingga dapat dipahami sehingga dapat diserap atau dipahami oleh anak didik dan menjadi pengertian – pengertian yang fungsional terhadap tingkah laku. Metode adalah strategi yang tidak dapat ditinggalkan dalam proses belajar mengajar. Setiap kali mengajar guru pasti menggunanakan metode, berbagai macam metode yang guru gunakan tentunya metode yang digunakan itu tidak sembarangan, melainkan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Sebelum kita beranjak kedalam pembahasan yang selanjutnya alangkah baiknya jika kita mengatahui apa itu pembelajaran. Pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap upaya yang sistimatik dan disengaja untuk menciptakan kondisi – kondisi agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efesien.*4 Sedangkan menurut pendapat lain pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur – unsure manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.*5 Sedangkan menurut Arief Sadiman (1990 ), pembelajaran adalah usaha – usaha yang terencana dalam memanipulasi sumber – sumber belajar agar terjadi proses belajar dalam diri peserta didik. *6 Sedangkan Iskandar ( 1995 )mengartikan pembelajaran adalah upaya untuk mebelajarkan siswa. Dan menurut Dugeng ( 1993 ) adalah upaya untuk membelajarkan peserta didik. Dalam kegiatan pembelajaran tersebut tidak dapat lepas dari interaksi antara sumber belajar dengan warga belajar, sehingga dalam pelaksanaan interaksi tersebut diperlukan berbagai cara dalam pelaksanaannya. Dalam interaksi tersebut terlibat beberapa orang diantaranya siswa, guru, dan tenaga ahli lainnya, misalnya tenaga laboratorium. Sedangkan sumber belajar diantara buku – buku, papan tulis, dan kapur, fotograpi, slide dan film, audio dan video tape.
Metode dalam pembelajaran tidak hanya berfungsi sebagai cara untuk menyampaikan materi saja, sebab sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran mempunyai tiga cakupan yang luas yaitu disamping sebagai penyampai informasi juga mempunyai tugas untuk mengelola kegiatan pembelajaran sehingga warga belajar dapat belajar untuk mencapai tujuan secara cepat.
Setiap tujuan yang dirumuskan menghendaki penggunaan metode yang sesuai. Untuk mencapai suatu tujuan yang diharapkan setiap guru tidak mesti menggunakan satu metode, tetapi bisa juga menggunakan beberapa metode dalam sebuah pembelajaran. Apalagi jika rumusan itu lebih dari satu, dua ataupun tiga rumusan tujuan.dalm hal ini guru perlu adanya sebuah penggabungan penggunaan metode pengajaran. Dengan begitu kekurangan metode yang satu akan tertutupi dengan metode yang lainnya lagi, dengan demikian metode mengajar yang saling melengkapi ini akan menghasilkan hasil pengajaran yang lebih baik daripada menggunakan atau terpaku dalam satu metode.
Metode mengajar yang berfariasi akan menggairahkan belajar anak didik. Variasi dalam kegiatan pembelajaran adalah perubahan dalam proses kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi para peserta didik serta mengurangi kejenuhan dan kebosanan*7. Pada suatu kondisi tertentu anak didik akan merasa bosan dengan metode ceramah, disebabkan mereka harus dengan setia dan tenang mendengarkan penjelasan guru tentang suatu masalah. Kegiatan pengajaran seperti itu harus guru alihkan dengan metode yang lain bisa dengan metode Tanya jawab atau metode diskusi, karena kemampuan setiap metode tersebut berbeda – beda, kemampuan yang dihasilkan oleh metode ceramah tentunya akan berbeda dengan metode yang dihasilkan oleh metode Tanya jawab atau diskusi. Demikian juga dengan penggunaan metode mengajar lainnya yang diantaranya adalah metode eksperimen, observasi, karyawisata, problem solving, dan lain sebagainya yang nanti akan kita bahas di dalam macam – macam metode.
2. Karakter Metode Pengajaran
Metode mengajar yang digunakan guru
– guru di sekolah dalam setiap pertemuannya di kelas saya yakin itu tidak asal
pilih, tetapi itu semua telah melalui beberapa proses penyeleksian yang sesuai
dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pertemuan tersebut, dalam merumuskan
tujuan pembelajaran jarang sekali guru – guru merumuskannya hanya dengan satu
tujuan bisa dua bahkan lebih, oleh karena itu guru tidak pernah menggunakan
satu metode dalam menyampaikan materi di kelas, penggunaan metode yang satu
ditujukan untuk tujuan yang satu dan tujuan yang lainnya seorang guru biasanya
menggunkan metode yang lai lagi.
Metode apapun yang di gunakan oleh seorang guru di sekolah hendaklah seorang guru tersebut memperhatikan beberapa karakter atau prinsip – prinsip dalam menggunakan metode, yakni :*8
Metode apapun yang di gunakan oleh seorang guru di sekolah hendaklah seorang guru tersebut memperhatikan beberapa karakter atau prinsip – prinsip dalam menggunakan metode, yakni :*8
- Prinsip Motifasi dan tujuan belajar. Motivasi adalah
tenaga penggerak yang menimbulkan upaya keras untuk melakukan sesuatu.
Menurut E.P. Hutabarat ( 1995 ), motivasi adalah Sesuatu yang mendorong
seseorang untuk bergerak, baik disadari maupun tidak disadari. Motivasi
belajar adalah jantungkegiatan belajar, sesuatu pendorong yang bisa
membuat orang belajar. Segala hasil dan sukses dalam belajar itu
bergantung pada motivasi. Semakin orang tertarik terhadap suatu bahan
semakin gampang dia akan menguasai dan menyimpannya. Menurut Wuwur
Hendrikus (2001) menjelaskan bahwa hasil optimal dari proses belajar
tergantung pada motivasi yang kuat.*9 Motivasi memiliki kekuatan
yang sangat dahsyat sekali dalam proses belajar mengajar, belajar tanpa
sebuah motifasi bagaikan badan tanpa jiwa, atau laksana mobil tanpa
bensin.
- Prinsip Kematangan dan perbedaan individual. Tahapan
belajar pada setiap anak manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda –
beda, dan kepekaan terhadap penerimaan pelajaran itu pun berbeda – beda.
Menurut Piaget yang dikutip Mansur ( 1991 : 104 ) memiliki tiga fase :
- Fase Pra Operasional, yakni usia 5-6 tahun atau masa
pra sekolah. Pada masa ini seorang anak belum bisa membedakan secara
gamblang, anak pada masa ini akan timbul pertanyaan – pertanyaan yang
akan sulit dijelaskan atau akan banyak prtanyaan yang abstrak, dan ini
bisa dijawab dengan cerita – cerita yang masuk rasio mereka.
- Fase Operasi Konkret. Masa ini pemikiran anak sudah
mulai berkembang, anak pada masa ini sudah mulai bisa berfikir abstrak.
Berfikir abstrak adalah belajar yang menggunakan cara – cara berfikir
abstrak*10. Tujuannya untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan
masalah masalah yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal – hal yang
abstrak diperlukan peranan akal yang kuat disamping penggunaan prinsip,
konsep,dan generalisasi. Pada masa ini anak akan tunduk kepada
perintahnya.
- Fase Operasional Formal. Pada fase ini anak sudah
mulai bisa berfikir apa yang ada dibalik realitas, baik melalui percobaan
ataupun observasi. Lebih lanjut Kohlberg (1995 : 68 ), menggambarkan
bahwa pada anak umur 10 sampai 16 tahun perkembangan moralnya bercirikan
sebagai berikut, diantaranya :
•
Orientasi pada hukuman dan ganjaran serta pada kekuatan fisik dan material.
• Orientasi anak manis berusaha mempertahankan harapan dan memperoleh persetujuan kelompoknya.
• Orientasi otoritas, hukuman dan kewajiban untuk mempertahankan tata tertib yang tetap diyakini sebagai nilai utama.
• Orientasi anak manis berusaha mempertahankan harapan dan memperoleh persetujuan kelompoknya.
• Orientasi otoritas, hukuman dan kewajiban untuk mempertahankan tata tertib yang tetap diyakini sebagai nilai utama.
- Prinsip Penyediaan Peluang dan Pengalaman Praktis. Pada
kedaan ini peran aktif siswa sangat berpengaruh sekali terhadap
psikologisnya, pengajaran yang dia alami akan lebih berarti disbanding
dengan kata – kata. Confusius pernah menekankan arti pentingnya belajar
dari pengalam. Dengan perkataan :“Saya dengar dan saya lupa”.“Saya liat
dan saya ingat”.“Saya lakukan dan saya Faham”.
- Integrasi Pemahaman dan Pengalaman. Penyatuan pemahaman
dan pengalaman akan menimbulkan kegiatan pembelajaran akan tampak semakin
nyata manfaat dan tujuan dari sebuah pembelajaran.
- Prinsip Fungsional. Belajar merupakan proses pengalaman
hidup yang bermanfaat bagi keidupan selanjutnya. Dalam artian seseorang
yang telah belajar dia akan mudah untuk menjalani rintangan kehidupan, dan
seseorang yang telah belajar tidak pernah jatuh pada lubang yang sama.
- Prinsip Menggembirakan. Belajar merupakan proses yang
terus berlanjut tanpa henti, tentu seiring dengan kebutuhan dan tuntutan
yang terus berkembang. Menurut Dori Wuwur Hendrikus belajar harus
menimbulkan rasa senang, jika tidak akan menambah beban hidup.
3. Kedudukan Metode.
Salah satu kompetensi guru dalam
proses pendidikan adalah ketermapilan dalam memilih metode. Pemilihan metode
ini sangat berkaitan erat dengan usaha guru dalam menampilkan proses belajar
mengajar dengan situasi dan kondisi yang ada sehingga pada akhirnya diharapkan
adanya pencapaian tujuan pengajaran yang telah dicitacitakan. Oleh karena itu
salah satu hal mendasar yang harus dipahami oleh para guru adalah sejauh mana
para guru tersebut memahami kedudukan metode sebagai salah satu factor yang
menunjang dalam keberhasilan system belajar mengajar, yang sama pentingnya
dengan komponen pendidikan lainnya.
Menurut Syaiful Djamarah dkk. ( 1995 : 82 ), metode memiliki kedudukan sebagai berikut :
Menurut Syaiful Djamarah dkk. ( 1995 : 82 ), metode memiliki kedudukan sebagai berikut :
a. Motivasi ekstrinsik, sebagai alat
pembangkit motivasi belajar.
b. Motivasi sebagai strategi pengajaran dalam menyiasati perbedaan individual anak didik.
c. Metode sebagai alat untuk mencapai tujuan, metode dapat meningkatkan daya serap materi bai siswa dan berdaya serap langsung terhadap pencapaian tujuan*11
b. Motivasi sebagai strategi pengajaran dalam menyiasati perbedaan individual anak didik.
c. Metode sebagai alat untuk mencapai tujuan, metode dapat meningkatkan daya serap materi bai siswa dan berdaya serap langsung terhadap pencapaian tujuan*11
Menurut pendapat lain mengatakan
bahwa kedudukan metode dalam pembelajaran mempunyai ruang lingkup sebagai cara
dalam :*12
- Pemberian dorongan, dengan sebuah metode yang menarik
akan memberi dorongan baik kepada siswa sendiri sebagai objek pengajaran
ataupun guru sebagai subjek pengajaran. Karena dengan penggunaan metode
dalam pembelajaran ini akan menguntungkan kedua belah fihak.
- Pengungkap tumbuhnya minat belajar, dengan sebuah
metode yang sesuai dan menarik maka minat belajar siswapun akan meningkat
seiring dengan kondisi dan keadaan yang ada.
- Penyampaian bahan ajar, metode juga biasa digunakan
guru dalam menyampaikan materi pelajarannya kepada siswa, sehingga bisa
tercapainya tujuan yang diharapkan.
- Pencipta iklim belajar yang kondusip, dengan
keterampilan guru memilih metode yang sesuai terhadap bahan ajar yang akan
disampaikan akan membuat menarik siswa dalam menerima pelajaran.
- Tenaga untuk melahirkan kreatifitas, metode juga akan
membantu melahirkan bakat – bakat terpendam dari para guru dan murid dalam
proses belajar mengajar.
- Pendorong untuk penilaian diri dalam proses dan hasil
belajar. Metode juga bisa mengukur sejauh mana seorang anak didik memahami
bahan ajar yang disampaikan.
- Pendorong dalam melengkapi kelemahan hasil belajar.
Metode juga membantu guru dalam menutupi kelemahannya terhadap metode yang
lainnya.
Melihat pemaparan para ahli diatas
seorang guru harus mengerti dan wajib faham dimana dia akan menempatkan sebuah
metode dalam proses belajar mengajar, guru harus terampil melihat
keefektifitasan metode yang digunakan terhadap bahan ajar.
4. Macam – Macam Metode.
Metode mengajar terdiri dari
beberapa macam, mulai dari yang tardisional – konvensional sampai yang modern –
kontemporer. Ada beberapa metode yang sering digunakan dalam proses belajar
mengajar. Para pakar menyebutkan beberapa macam metode dalam pembelajaran.
Pupuh Fathurohman mengatakan metode terdiri dari : Metode Proyek, Metode
Eksperimen, Metode Penugasan, Metode Diskusi, Metode Sosiodrama, Metode
Demontrasi, Metode Problem Solving, Metode Karyawisata, Metode Tanya Jawab,
Metode Latihan, Metode Ceramah. Kemudian seiring dengan Pupuh Fathurahman, Drs.
Mahmud, M.Si dan Tedi Priatna M.Ag sepakat dengan macam metode yang dipaparkan
oleh Pupuh Fathurahman.
Berbeda dengan Dra. Ihat Hatimah beliau memaparkan bahwa macam metode lebih kurang ada tiga puluh macam, yang pada kesempatan ini akan saya coba paparkan satu persatu :*13
Berbeda dengan Dra. Ihat Hatimah beliau memaparkan bahwa macam metode lebih kurang ada tiga puluh macam, yang pada kesempatan ini akan saya coba paparkan satu persatu :*13
- Metode DIAD. Metode DIAD Yaitu cara komunikasi diantara
dua orang baik secara lisan maupun tertulis terutama menyangkut identitas
dari masing – masing Pribadi.
- Metode Tanya Jawab. Metode Tanya Jawab yaitu cara
penjelasan informasi yang pelaksanaannya saling bertanya dan menjawab
antara sumber belajar dengan warga belajar.
- Metode BROKEN SQUARE. Metode Broken Square yaitu cara
penyusunan pecahan – pecahan Bujur sangkar yang dilakukan oleh empat atau
lima kelompok menjadi bentuk bujur sangkar.
- Metode Ceramah. Metode Ceramah yaitu cara penyampaian
informasi secara lisan yang dilakukan oleh sumber belajar kepada warga
belajar.
- Metode Brainstorming. Metode Brainstorming atau curah
pendapat yaitu cara menghimpun gagasan atau pendapat dari setiap warga
belajar tentang suatu permasalahan.
- Metode Sambutan Melingkar. Metode Sambutan Melingkar
yaitu suatu cara untuk menghimpun pendapat warga belajar, yang
pelaksanaannya setiap warga belajar harus mengemukakan pendapatnya sesuai
dengan permasalahan yang diajukanoleh sumber belajar secara bergiliran
dalam keadaan tempat duduk yang melingkar.
- Metode Diskusi Kelompok. Metode Diskusi Kelompok yaitu
cara pembahasan suatu masalah oleh jumlah anggota kelompok untuk mencapai
suatu kesepakatan.
- Metode Rembuk Sejoli. Metode Rembuk Sejoli yaitu cara
pemecahan suatu masyalah yang pelaksaanaannya warga belajar dalm kelompok
dibagi secara berpasangan kemudian dalam waktu yang singkat masing –
masing kelompok membahas suatu msayalah dan diakhiri dengan penyampaian
laoprannya oleh masing – masing juru bicara dalam kleompok besar.
- Metode Buzz Group. Metode Buzz Group Yaitu cara
pembahasannya suatu maslah yang pelaksanaannya warga belajar dibagi
beberapa kelompok antara tiga sampai enam orang membahas suatu maslah yang
diakhiri dengan penyampaian hasil pembahasannya oleh setiap juru bicara
pada kelompok besar.
- Metode Phillips 66. Metode Phillips 66 yaitu cara
pembahsan masalah yang pelaksanaanya warga belajar dibagi dalam kelompok
kecil terdiri dri enam orang dan dalam waktu enam menit membahas suatu
masyalah yang diakhiri dengan penyampaian laporan oleh setiap juru bicara
dalam kelompok kecil.
- Metode Fish Bowl. Metode Fish Bowl atau metode cawan
ikan yaitu cara pmecahan masalah melalui diskusi yang pelaksanaannya
waraga belajar dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok dalam dan
kelompok luar. Yang melaksankan diskusi yaitu kelompok dalam, sedangkan
kelompok luar berperan sebagai pendengar yang satu waktu bisa pindah pada
kelompok dalam untuk mengemukakan pendapat.
- Metode Membaca dan Bsrdiskusi. Metode Membaca dan
Berdiskusi yaitu cara pembahasan suatu permasalahan melalui diskusi dengan
mengawali kegiatan dengan membaca terlebih dahulu.
- Metode Lukisan Kelompok. Metode Lukisan Kelompok yaitu
cara mengekspresikan gagasan oleh setiap kelompok dalam bentuk gambar yang
diakhiri dengan kegiatan diskusi yang baik yang bersifat umum maupun
bersifat khusus.
- Metode Karangan Kelompok. Metode Karangan Kelompok
yaitu cara pengekspresian gagasan oleh setiap kelompok dalam bentuk
karangan kelompok yang diakhiri dengan kegiatan diskusi baik yang bersifat
umum maupun khusus.
- Metode Forum Musik. Metode Forum Musik yaitu cara
pembahsan sesuatu hal yang diawali dengan mendengarkan musik terlebih
dahulu oleh warga belajar.
- Metode Penelaahan Induktif Kitab Suci. Metode
Penelaahan Induktif Kitab Suci yaitu cara penelaahan sesuatu ayat Kitab
Suci yang dikemukakan oleh sumber belajar.
- Metode Pembahasan Mendalam Kitab Suci. Metode
Pembahasan Mendalam Kitan Suci yaitu cara pembahasan ayat – ayat Kitab
Suciyang dikemukakan oleh warga belajar baik secara lisan maupun tertulis
- Metode Demontrasi. Metode Demontrasi yaitu cara
memperagakan sesuatu hal yang pelaksanaannya diawali oleh peragam sumber
belajar kemudian diikuti oleh warga belajar.
- Metode Resitasi/Penugasan. Metode Resitasi yaitu cara
pemberian tugas yang dilakukan oleh sumber belajar kepada warga belajar
yang pelaksanaannya dapat dilakukan di dalam kelas maupun di luar kelas,
serta dapat dilakukan secara individual maupun kelompok.
- Metode Drill/Latihan. Metode Drill yaitu cara melatih
warga belajar tentang kegiatan – kegiatan tertentu secara berulang
ulangdengan materi yang sama.
- Metode Symposium. Metode Symposium Yaitu cara
penyimpanan materi secara lisan dilakukan berupa kegiatan ceramah oleh
beberapa orang nara sumber.
- Metode Panel. Metode Panel yaitu cara pembahasan suatu
masalah melalui suatu kegiatan diskusi yang dilakukan oleh beberapa ahli
dari berbagai keahlian dihadapi oleh warga belajar.
- Metode Forum/Diskusi Panel. Metode Forum Panel
merupakan pengembangan dari metode panel. Metode Forum Panel sama dengan
Metode Diskusi Panel
- Metode Seminar. Metode Seminar yaitu cara penyampaian
informasi brdasarkan hasil penelitian yang diikuti dengan kegiatan diskusi
oleh seluruh warga belajar dibawah bimbingan sumber belajar.
- Metode Studi Kasus. Metode Studi Kasus yaitu cara
penelaahan suatu kasus nyata dilapangan melalui kegiatan penelitian, yang
diakhiri dengan kegiatan penyampaian laporan.
- Metode Colloquy. Metode Colloquy yaitu cara pembahasan
suatu permasalahan yang dilakukan oleh tiga atau empat orang nara sumber
dengan didasarkan kepada pertanyaan yang dilakukan oleh tiga atau empat
orang sebagai wakil kelompok warga belajar.
- Metode Karyawisata. Metode Karyawisata Yaitu cara
mengunjungi suatu tempat/objek tertentu dengan melibatkan seluruh warga
belajar, dengan kegiatan ada unsure karya dan unsure wisata.
- Metode Simulasi. Metode Simulasi yaitu cara permainan
yang merupakan cuplikan satu situasi kehidupan nyata yang diangkat dalam
kegiatan belajar.
- Metode Role Playing/Bermain Peran. Metode Role Playing
yaitu cara permainan yang pelaksanaannya berupa peragaan secara singkat
oleh warga belajar dengan tekanan utama pada karakteristik/ sifat
seseorang dengan dasar memerankan cuplikan tingkah laku dalam situasi
tertentu, yang dilanjtkan dengan kegiatan diskusi tentang masalah yang
baru diperagakan.
- Metode Socio drama. Metode Socio Drama penerapan dan
langkah – langkahnya pada prinsipnya sama dengan metode Role Playing yaitu
sama –sama termasuk rumpun metode permainan.
Ciri – Ciri Umum Metode Yang Baik
1. Pengertian Metode
2. Karakter Metode Pengajaran
3. Kedudukan Metode.
4. Macam – Macam Metode.
5. Ciri – Ciri Umum Metode Yang Baik
2. Karakter Metode Pengajaran
3. Kedudukan Metode.
4. Macam – Macam Metode.
5. Ciri – Ciri Umum Metode Yang Baik
Setiap guru yang akan mengajar pasti
akan daihapkan pada suatu pilihan metode. Banyak sekali metode yang dapat diguanakan
dalam proses belajar mengajar, tapi saya yakin dari sekian banyak metode yang
disajikan, ada yang baik manfaatnya bagi guru dan ada yang buruk manfaatnya,
itu tergantung guru yang menggunkannya, sejauh mana ia bisa menempatkan metode
tersebut pada faknya atau sesuai tujuan yang diharapkan.
Mohammad al Taoumy ( 1983 ) mengatakan terdapat beberapa cirri dari sebuah metode yang baik untuk pembelajaran Pendidikan Agama Islam, yakni :*14
Mohammad al Taoumy ( 1983 ) mengatakan terdapat beberapa cirri dari sebuah metode yang baik untuk pembelajaran Pendidikan Agama Islam, yakni :*14
- Berpadunya Metode dari segi tujuan dan alat dengan jiwa
dan ajaran akhlaq Islam yang mulia.
- Bersifat luwes, Fleksibel dan memiliki daya suai dengan
watak siswa dan materi.
- Bersifat fungsional dalam menyatukan teori dengan
praktek dan mengantarkan siswa dalam kemampuan prktis.
- Tidak mereduksi materi, bahkan sebaliknya justru
mengembangkan materi
- Memberikan keleluasan pada siswa untuk menyatakan
pendapatnya.
- Mampu menempatkan guru dalam posisi yang tepat,
terhormat dalam keseluruhan proses pembelajaran.
Demikian makalah yang bisa saya
sajikan, saya mohon maaf jika dalam pembuatan makalah ini banyak kekuarangannya
karena terbatasnya pengetahuan saya dan buku referensi yang saya miliki. Tetapi
sebelum saya menutup makalah ini izinkan saya menampilkan sebuah karya tulis
dari seorang Guru SLTP Negeri 1 Purwodadi, Jawa Tengah, yang bernama Rudarti,
karya tulis beliau yang saya temukan di Internet cukup menyimak perhatian saya
dan pada kesempatan kali ini saya hanya ingin berbagi pengalaman dengan para
pembaca sekalian. Beliau memberikan solusi alternatip metode yang bisa digunakan
oleh sekolah – sekolah untuk meningkatkan kualitas anak didik. Dan inilah
kutipan karya tulis tersebut.
TUJUAN utama dari pengajaran adalah transformasi informasi dari seorang guru kepada peserta didik. Namun, umumnya para guru hanya mengandalkan media pengajaran klasik, seperti ceramah dan gambar sebagai ilustrasi. Padahal sesungguhnya untuk tujuan tercapainya proses belajar tuntas, seorang guru diberikan kebebasan berkreas.
Belakangan ini sejumlah stasiun televisi swasta sedang berebut memberikan tayangan dokumenter yang diputar pada saat prime-time. Sebutlah Discovery dan Born Wild. Saya menilai, tayangan tersebut sarat dengan nilai pendidikan dan dapat menjadi sebuah metode pengajaran alternatif. Tanpa bermaksud terlalu menyanjung, lewat tayangan dokumenter seperti itu sebuah proses belajar-mengajar dapat menjadi sangat mengasyikkan dan menghibur. Bahkan, peserta didik pun tak merasa kalau dirinya sedang berada dalam proses belajar-mengajar.
Saya membayangkan, alangkah indahnya jika metode pengajaran seperti itu diadopsi secara resmi ke dalam sekolah. Saya yakin, dengan metode pengajaran seperti itu pelajaran menjadi sangat menarik dan tidak membosankan. Anda boleh cek, mengapa rata-rata siswa tidak suka dengan pelajaran IPS? Jawabannya karena pada umumnya mata pelajaran itu hanya disampaikan dengan cara menghafal. Akibatnya, siswa merasa cepat lelah dan mengantuk. Padahal, banyak sekali peristiwa yang dapat disajikan dengan gaya dokumenter, seperti proses terjadinya gunung berapi, gempa bumi, atau peristiwa sejarah perjuangan bangsa, yang barangkali menjadi sangat njlimet jika disampaikan dengan metode ceramah.
Dari waktu ke waktu rating tayangan dokumenter selalu meningkat. Perkembangan dari kesuksesan di layar kaca tersebut ternyata diikuti dengan perkembangan di luar. Para orangtua sekarang punya kecenderungan membelikan oleh-oleh bagi anaknya VCD dokumenter dibandingkan dengan membelikan makanan ringan yang banyak mengandung bumbu penyedap. Fenomena tersebut sudah menunjukkan adanya perubahan sikap dan peningkatan kesadaran pendidikan dari para orangtua. Lebih dari itu, tayangan dokumenter belakangan ini sudah mampu menggeser topik pembicaraan dari kisah tayangan telenovela atau tayangan film .
METODE pembelajaran lewat multimedia sesungguhnya bukan hal baru, namun sekarang ini sangat jarang dilakukan karena rendahnya kreativitas guru. Karena itu, sekalipun di satu sekolah terdapat peralatan multimedia, tetapi masih sangat jarang yang memanfaatkannya sebagai materi pembelajaran. Padahal, sesungguhnya tak ada alasan bagi sekolah untuk tidak memakai metode pembelajaran seperti ini, di mana pesawat televisi maupun VCD player bukan lagi menjadi barang mewah. Gagasan terobosan seperti ini saya pikir perlu dilakukan. Sebab, siswa sudah terlalu jenuh jika hanya diwajibkan untuk menghafal buku teks.
seandainya metode pengajaran seperti ini diadopsi oleh sekolah, saya yakin persentase pencapaian belajar tuntas berkaitan dengan diterapkannya kurikulum baru berbasis kompetensi, yang menuntut kreativitas guru dalam mengelola kelas serta dapat meningkatkan keaktifan siswa, maka metode pengajaran ini lebih sesuai. Karena, siswa akan merasa berada pada suasana bermain dan tidak belajar. Setelah itu guru melakukan ulasan untuk mempertajam memori terhadap tayangan yang baru saja dilihat, atau memberi penugasan kepada siswa untuk mendiskusikan materi yang baru saja dilihat untuk kemudian dipresentasikan di depan kelas.
Di samping itu, dengan metode pengajaran ini kerja seorang guru menjadi lebih ringan karena guru tak diwajibkan untuk terus-menerus berdiri di depan kelas seraya mengoceh.
TUJUAN utama dari pengajaran adalah transformasi informasi dari seorang guru kepada peserta didik. Namun, umumnya para guru hanya mengandalkan media pengajaran klasik, seperti ceramah dan gambar sebagai ilustrasi. Padahal sesungguhnya untuk tujuan tercapainya proses belajar tuntas, seorang guru diberikan kebebasan berkreas.
Belakangan ini sejumlah stasiun televisi swasta sedang berebut memberikan tayangan dokumenter yang diputar pada saat prime-time. Sebutlah Discovery dan Born Wild. Saya menilai, tayangan tersebut sarat dengan nilai pendidikan dan dapat menjadi sebuah metode pengajaran alternatif. Tanpa bermaksud terlalu menyanjung, lewat tayangan dokumenter seperti itu sebuah proses belajar-mengajar dapat menjadi sangat mengasyikkan dan menghibur. Bahkan, peserta didik pun tak merasa kalau dirinya sedang berada dalam proses belajar-mengajar.
Saya membayangkan, alangkah indahnya jika metode pengajaran seperti itu diadopsi secara resmi ke dalam sekolah. Saya yakin, dengan metode pengajaran seperti itu pelajaran menjadi sangat menarik dan tidak membosankan. Anda boleh cek, mengapa rata-rata siswa tidak suka dengan pelajaran IPS? Jawabannya karena pada umumnya mata pelajaran itu hanya disampaikan dengan cara menghafal. Akibatnya, siswa merasa cepat lelah dan mengantuk. Padahal, banyak sekali peristiwa yang dapat disajikan dengan gaya dokumenter, seperti proses terjadinya gunung berapi, gempa bumi, atau peristiwa sejarah perjuangan bangsa, yang barangkali menjadi sangat njlimet jika disampaikan dengan metode ceramah.
Dari waktu ke waktu rating tayangan dokumenter selalu meningkat. Perkembangan dari kesuksesan di layar kaca tersebut ternyata diikuti dengan perkembangan di luar. Para orangtua sekarang punya kecenderungan membelikan oleh-oleh bagi anaknya VCD dokumenter dibandingkan dengan membelikan makanan ringan yang banyak mengandung bumbu penyedap. Fenomena tersebut sudah menunjukkan adanya perubahan sikap dan peningkatan kesadaran pendidikan dari para orangtua. Lebih dari itu, tayangan dokumenter belakangan ini sudah mampu menggeser topik pembicaraan dari kisah tayangan telenovela atau tayangan film .
METODE pembelajaran lewat multimedia sesungguhnya bukan hal baru, namun sekarang ini sangat jarang dilakukan karena rendahnya kreativitas guru. Karena itu, sekalipun di satu sekolah terdapat peralatan multimedia, tetapi masih sangat jarang yang memanfaatkannya sebagai materi pembelajaran. Padahal, sesungguhnya tak ada alasan bagi sekolah untuk tidak memakai metode pembelajaran seperti ini, di mana pesawat televisi maupun VCD player bukan lagi menjadi barang mewah. Gagasan terobosan seperti ini saya pikir perlu dilakukan. Sebab, siswa sudah terlalu jenuh jika hanya diwajibkan untuk menghafal buku teks.
seandainya metode pengajaran seperti ini diadopsi oleh sekolah, saya yakin persentase pencapaian belajar tuntas berkaitan dengan diterapkannya kurikulum baru berbasis kompetensi, yang menuntut kreativitas guru dalam mengelola kelas serta dapat meningkatkan keaktifan siswa, maka metode pengajaran ini lebih sesuai. Karena, siswa akan merasa berada pada suasana bermain dan tidak belajar. Setelah itu guru melakukan ulasan untuk mempertajam memori terhadap tayangan yang baru saja dilihat, atau memberi penugasan kepada siswa untuk mendiskusikan materi yang baru saja dilihat untuk kemudian dipresentasikan di depan kelas.
Di samping itu, dengan metode pengajaran ini kerja seorang guru menjadi lebih ringan karena guru tak diwajibkan untuk terus-menerus berdiri di depan kelas seraya mengoceh.
DAFTAR PUSTAKA
Pupuh Fathurrahman, 2001. Strategi Belajar Mengajar,Bandung, Tunas Nusantara.
Ihat Hatimah. 2000. Strategi dan Metode Pembelajaran, Bandung : ANDIRA
Mahmud dan Tedi Priatna. 2005. Pemikiran Pendidikan Islam, Bandung : SAHIFA
Abuy Sodiqin dan Badruzaman. 2004. Metodologi Studi Islam, Bandung : Insan Mandiri.
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zein. 1996. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta, Rineka Cipta.
M Sobry Sutikno. 2005. Pembelajaran Efektif, Mataram, NTP Press.
Muhibbin Syah. 1995. Psikologi Pendidikan, Bandung, Rosda Karya.
Rudarti. 2006. Metode Pengajaran Alternatip. Int
Subscribe to:
Posts (Atom)
